Robot yang merupakan singkatan dari Advanced Warning and Rescue tersebut dirancang untuk mendukung proses pencarian korban melalui kombinasi sensor termal, radar, dan kamera. Teknologi ini diharapkan dapat membantu petugas memperoleh informasi awal mengenai keberadaan korban sebelum melakukan evakuasi.
Tim Stay Aware terdiri atas Nismara Rukmi Shadina sebagai ketua, bersama Alzena Kayla Prajatara, Ameera Maylova Danesha Athaya, Keyaan Anargya Afrianto, dan Airlangga Arkananta Rasendriya.
Mereka mengikuti kompetisi internasional yang berlangsung pada 3-6 Oktober 2026 di SMESCO Indonesia, Jakarta. Dalam kategori IoT and Applications untuk kelompok usia sekitar 13-15 tahun, tim tersebut bersaing dengan peserta dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
Ketua tim Stay Aware, Nismara Rukmi Shadina, mengatakan A.W.A.R.E BOT dikembangkan untuk menjawab kendala pencarian korban, terutama ketika tubuh korban tertutup material bangunan sehingga sulit diketahui secara visual.
"Biasanya, ketika terjadi bencana seperti bangunan runtuh, ada korban yang sulit ditemukan karena tertimbun material dan tidak terlihat secara langsung. Kami membuat A.W.A.R.E BOT untuk membantu tim SAR mendeteksi keberadaan korban menggunakan sensor, sehingga proses pencarian bisa lebih terbantu," kata Nismara, Selasa (13/10/2026).
Jangkauan Robot Masih 30-50 Meter
A.W.A.R.E BOT dilengkapi sensor termal untuk membaca suhu, sensor radar untuk membantu mendeteksi indikasi keberadaan manusia, serta kamera untuk menampilkan kondisi di sekitar lokasi pencarian.
Informasi dari perangkat tersebut dapat dipantau operator melalui sistem kendali dan dashboard. Robot kemudian diarahkan menuju titik yang menunjukkan indikasi keberadaan korban agar petugas dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Berdasarkan pengujian prototipe yang dilakukan tim, robot tersebut saat ini memiliki jangkauan operasional sekitar 30-50 meter.
Jangkauan dan akurasi sensor masih menjadi pekerjaan rumah bagi para siswa. Mereka berencana menyempurnakan sistem pendeteksian agar robot dapat bekerja lebih optimal ketika digunakan di lokasi bencana.
"Karena masih berupa prototipe, jangkauan kami saat ini sekitar 30 sampai 50 meter. Ke depan, kami ingin mengembangkan akurasi sensor, memperluas jarak operasional, dan menyempurnakan sistemnya agar bisa lebih bermanfaat dalam membantu proses penyelamatan korban bencana," ujarnya.
Selain meningkatkan kemampuan pendeteksian, tim Stay Aware juga merencanakan penambahan kompartemen untuk membawa perlengkapan pertolongan pertama atau first aid kit. Pada tahap pengembangan berikutnya, robot diharapkan dapat membawa makanan dan minuman darurat bagi korban sembari menunggu kedatangan petugas.
Dirakit Sendiri, Sensor Radar Jadi Tantangan Biaya
Dalam pengembangannya, A.W.A.R.E BOT menggunakan mikrokontroler Arduino dengan sistem pemrograman yang dikembangkan oleh para siswa.
Sejumlah komponen elektronik, termasuk sensor, diperoleh melalui toko daring. Namun, proses perakitan, pemasangan sensor, hingga pengembangan sistem dilakukan sendiri oleh anggota tim.
Nismara menyebut biaya komponen menjadi salah satu tantangan dalam pembuatan robot tersebut, terutama sensor radar yang relatif mahal.
"Komponen sensornya memang kami beli, tetapi robotnya kami rancang dan rakit sendiri. Kami juga mengembangkan sistem pemrogramannya. Tantangannya salah satunya pada biaya sensor radar, karena komponen tersebut cukup mahal," katanya.
Melanjutkan Inovasi Keselamatan Manusia
A.W.A.R.E BOT bukan inovasi pertama yang dikembangkan tim Stay Aware. Pada 2025, mereka menciptakan A.W.A.R.E JACKET, jaket pintar yang dirancang untuk membantu meningkatkan keselamatan pekerja konstruksi.
Jaket tersebut dikembangkan dengan kemampuan mendeteksi kecelakaan kerja serta mengirimkan peringatan suara dan notifikasi lokasi berbasis GPS untuk mempercepat penanganan.
Pengembangan A.W.A.R.E JACKET menjadi A.W.A.R.E BOT menunjukkan perluasan pemanfaatan teknologi yang digarap tim. Jika inovasi sebelumnya berfokus pada keselamatan pekerja, robot terbaru diarahkan untuk mendukung pencarian dan penyelamatan korban bencana.
Bagi para siswa, medali emas IID 2026 menjadi dorongan untuk melanjutkan pengembangan produk agar tidak berhenti sebagai prototipe kompetisi.
"Kami berharap A.W.A.R.E BOT tidak berhenti sebagai prototipe untuk lomba saja. Kami ingin terus mengembangkannya supaya suatu saat bisa membantu tim SAR menemukan korban dengan lebih cepat dan memberikan kesempatan lebih besar bagi korban untuk segera mendapatkan pertolongan," pungkas Nismara.


▶
▶
▶
▶

Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Pendidikan

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR