Narative.id Jawa Timur · Network of Local News
ADVERTISEMENTtes4
Pendidikan

Sumpah Pemuda ke-98, Jawa Timur Hadapi Tantangan Menyiapkan Generasi Muda untuk Dunia Kerja dan Era Digital

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada Rabu, 28 Oktober 2026, menjadi momentum bagi Jawa Timur untuk melihat kembali posisi generasi muda dalam…
Logo Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026 mengusung filosofi “Besi yang Menjadi Cahaya” dengan tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”.
Logo Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026 mengusung filosofi “Besi yang Menjadi Cahaya” dengan tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. · Foto: (Dok. Kemenpora)

NARATIVE.ID, SURABAYA — Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada Rabu, 28 Oktober 2026, menjadi momentum bagi Jawa Timur untuk melihat kembali posisi generasi muda dalam pembangunan daerah.

Hampir satu abad setelah ikrar Sumpah Pemuda 1928, tantangan yang dihadapi generasi muda tidak lagi semata-mata soal membangun persatuan, tetapi juga kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi, persaingan keterampilan, hingga kebutuhan memperluas ruang partisipasi dalam pembangunan.

Data yang menjadi rujukan dalam pembahasan kebijakan kepemudaan Jawa Timur menunjukkan, pemuda mencapai sekitar 20,87 persen dari total penduduk Jawa Timur. Dari jumlah tersebut, sekitar 58,81 persen tinggal di wilayah perkotaan.

Besarnya proporsi tersebut membuat pembangunan pemuda menjadi persoalan lintas kabupaten dan kota, mulai dari penyediaan pendidikan, keterampilan, lapangan kerja, ruang kreativitas, kewirausahaan, hingga partisipasi sosial.

Patriotik, Gigih dan Berempati

Peringatan Sumpah Pemuda 2026 menempatkan nilai patriotik, gigih, dan berempati sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter generasi muda.

Kementerian Pemuda dan Olahraga juga menjadikan tiga nilai tersebut sebagai arah penguatan karakter pemuda Indonesia. Patriotik ditempatkan sebagai bentuk kecintaan dan tanggung jawab terhadap bangsa, kegigihan berkaitan dengan daya juang menghadapi perubahan, sedangkan empati menekankan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.

Bagi Jawa Timur, nilai tersebut menghadapi konteks yang semakin kompleks.

Generasi muda tidak hanya berhadapan dengan perubahan sosial, tetapi juga transformasi ekonomi dan teknologi yang memengaruhi pola kerja, pendidikan, komunikasi, hingga cara masyarakat memperoleh informasi.

Perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi anak muda untuk berkarya, membangun usaha, mengembangkan industri kreatif, serta memperluas jejaring. Namun, ruang yang sama juga menuntut kemampuan memilah informasi, menjaga etika digital, dan menghadapi arus informasi yang semakin cepat.

Tantangan Dunia Kerja

Persoalan ketenagakerjaan menjadi salah satu tantangan penting bagi generasi muda Jawa Timur.

Secara keseluruhan, BPS Jawa Timur mencatat angkatan kerja di provinsi ini pada 2025 mencapai sekitar 24,76 juta orang, dengan sekitar 960.700 orang berada dalam kategori pengangguran terbuka. Tingkat Pengangguran Terbuka Jawa Timur tercatat 3,88 persen.

Kondisinya berbeda antarwilayah.

Pada 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Sidoarjo tercatat 5,75 persen, Kota Malang 5,69 persen, Kabupaten Gresik 5,47 persen, dan Kabupaten Bangkalan 5,31 persen. Sementara beberapa daerah lain memiliki tingkat pengangguran yang lebih rendah.

Data tersebut memang mencakup seluruh kelompok usia kerja, bukan hanya pemuda. Namun, kondisi pasar kerja tersebut menjadi bagian dari lingkungan ekonomi yang akan dihadapi generasi muda ketika memasuki dunia kerja.

Karena itu, penguatan keterampilan, pendidikan yang sesuai kebutuhan industri, kewirausahaan, dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dalam pembangunan pemuda Jawa Timur.

Jatim Siapkan Penguatan Kebijakan Kepemudaan

Pada 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama DPRD juga sedang membahas Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Kepemudaan dan Keolahragaan.

Raperda tersebut diarahkan untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia, layanan kepemudaan, partisipasi pemuda, serta sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi kepemudaan, dan masyarakat.

Dalam pembahasannya, DPRD Jatim juga menyoroti pentingnya memastikan bonus demografi tidak berhenti pada besarnya jumlah penduduk usia muda.

Pemuda dinilai membutuhkan akses terhadap pendidikan berkualitas, lapangan pekerjaan, keterampilan yang sesuai kebutuhan zaman, kesempatan berwirausaha, ruang kreativitas, serta ruang partisipasi dalam pembangunan.

Pembahasan regulasi tersebut membuat momentum Sumpah Pemuda memiliki konteks yang lebih konkret bagi Jawa Timur.

Peringatan tidak hanya berhenti pada refleksi sejarah, tetapi juga menyangkut bagaimana pemerintah dan masyarakat menyiapkan lingkungan yang memungkinkan generasi muda berkembang.

Persatuan di Era Digital

Ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 menegaskan tekad bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan Indonesia.

Hampir 100 tahun kemudian, semangat persatuan menghadapi ruang yang berbeda.

Media sosial membuat interaksi antardaerah semakin terbuka, tetapi juga memperbesar kemungkinan munculnya informasi keliru, konflik opini, dan polarisasi.

Dalam kondisi tersebut, patriotisme tidak hanya diwujudkan melalui simbol maupun seremoni, tetapi juga melalui kemampuan menjaga ruang publik, menghormati perbedaan, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Kegigihan juga tidak semata-mata berarti bertahan menghadapi kesulitan, tetapi kemampuan untuk terus belajar ketika kebutuhan keterampilan berubah.

Sementara empati menjadi penting ketika perkembangan ekonomi dan teknologi tidak selalu dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok masyarakat.

Dari Peringatan ke Tindakan

Bagi Jawa Timur, besarnya jumlah pemuda merupakan potensi sekaligus tantangan.

Generasi muda tersebar dari kawasan metropolitan Surabaya Raya, wilayah industri Gresik dan Sidoarjo, daerah pendidikan seperti Malang, kawasan pertanian dan perdesaan, hingga Madura dan wilayah Tapal Kuda dengan karakter sosial ekonomi yang berbeda.

Karena itu, kebutuhan pemuda juga tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan yang sama.

Program kepemudaan perlu memperhatikan kondisi antarwilayah, akses pendidikan, kesempatan kerja, perkembangan industri, kewirausahaan, hingga ruang partisipasi masyarakat.

Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi pengingat bahwa warisan pemuda 1928 tidak cukup diperingati melalui seremoni.

Di Jawa Timur, semangat patriotik, gigih, dan berempati akan memiliki makna lebih nyata ketika diterjemahkan menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, ruang berkarya, serta kesempatan terlibat dalam pembangunan daerah.

Persatuan yang diwariskan generasi 1928 pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang berdiri bersama sebagai bangsa, tetapi juga tentang memastikan generasi berikutnya memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkontribusi.

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
ADVERTISEMENTpromo aplikasi inline berita
Prayitno
Prayitno
Reporter / Redaksi Narative.id Jawa Timur

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT