Adalah Nilunda Arsyi Parahita, perempuan berusia 23 tahun yang memilih melanjutkan usaha keluarga peninggalan almarhum ayahnya, Didik Adiyono. Bersama adiknya, Naufal, yang masih duduk di bangku SMA, Nilunda berusaha menjaga agar usaha pembuatan gamelan tersebut tidak berhenti di tengah jalan.
Perjuangan itu bukan perkara mudah. Jika dahulu Mustika Laras mampu menerima pesanan lima hingga delapan set gamelan dalam sebulan, kini jumlahnya turun drastis menjadi rata-rata satu set per bulan.
"Dulu bisa banyak paket gamelan. Tapi sekarang, paling satu bulan satu paket saja," ungkap Nilunda saat ditemui detikJatim, Minggu (18/10/2026).
Penurunan pesanan menjadi tantangan tersendiri bagi usaha yang mengandalkan keterampilan tangan dan proses produksi panjang tersebut. Namun, bagi Nilunda, Mustika Laras bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan juga warisan keluarga sekaligus bagian dari upaya menjaga keberlangsungan budaya Jawa.
"Ayah dan ibu sudah kapundut (meninggal dunia). Jadi yang meneruskan saya dan adik saya. Berdua," tuturnya.
Proses Panjang di Balik Bunyi Gamelan
Sebagai lulusan Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Nilunda mengambil peran di bidang pemasaran. Sementara itu, adiknya turut membantu proses produksi di tengah kesibukannya bersekolah.
Keduanya harus menjaga keberlangsungan usaha yang telah dirintis sejak generasi terdahulu. Nilunda mengaku sudah akrab dengan suara gamelan sejak lahir karena kerajinan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan keluarganya selama puluhan tahun.
Pembuatan gamelan bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan secara instan. Setiap instrumen membutuhkan ketelitian, mulai dari menyiapkan bahan mentah, membakar dan membentuk logam, menyambung bagian menggunakan las listrik, hingga merapikan permukaannya dengan gerinda.
Setelah itu, proses berlanjut pada penyetelan nada atau tuning, pengecatan, dan pengeringan. Ketepatan setiap tahapan menentukan kualitas instrumen yang dihasilkan.
Mustika Laras memproduksi beragam perangkat gamelan, mulai dari demung, saron, peking, gong, slenthem, gender, hingga bonang. Perangkat pendukung seperti tabuh, kenong, dan rancak juga menjadi bagian dari produk yang ditawarkan.
Pesanan yang diterima menyesuaikan kebutuhan pelanggan, mulai dari perangkat untuk karawitan, wayangan, hingga jaranan. Tidak semua pelanggan membeli satu set lengkap karena sebagian hanya memesan beberapa instrumen atau setengah paket.
Harga Satu Set Gamelan Tembus Rp 300 Juta
Di balik penurunan jumlah pesanan, kerajinan gamelan tetap memiliki pasar tersendiri. Mustika Laras menerima pesanan dari berbagai daerah di Jawa Timur, luar provinsi, luar Pulau Jawa, bahkan mancanegara.
Nilai transaksi setiap pesanan juga tidak kecil. Menurut Nilunda, harga satu set gamelan berbahan standar besi dan kuningan dapat mencapai Rp 90 juta. Sementara itu, satu set berbahan kuningan penuh bisa dibanderol hingga Rp 300 juta.
Besarnya harga tersebut berkaitan dengan bahan baku, jenis perangkat, serta proses pengerjaan yang membutuhkan keterampilan khusus. Karena itu, pembelian gamelan sering kali disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pemesan.
Meski peluang pasar masih terbuka, keberlangsungan usaha tetap bergantung pada kemampuan menjangkau pelanggan baru dan mempertahankan minat masyarakat terhadap gamelan.
Berharap Dukungan Pemasaran dan Pelestarian Budaya
Nilunda mengaku bangga menjadi bagian dari generasi muda yang meneruskan kerajinan tradisional. Baginya, mempertahankan Mustika Laras berarti menjaga warisan keluarga sekaligus ikut merawat kebudayaan Jawa.
"Kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai Gen Z. Karena selain turut andil melestarikan budaya Jawa, Mustika Laras ini adalah usaha keluarga, jadi harus tetap ada," katanya.
Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memberikan dukungan lebih nyata terhadap pengrajin gamelan. Salah satu kebutuhan yang dinilai penting ialah memperluas pemasaran melalui festival, kegiatan kebudayaan, hingga pertukaran budaya.
"Kemudian, harapannya tentu, kami dibantu dalam hal pemasaran. Baik melalui festival-festival maupun pertukaran budaya," pungkasnya.
Bagi Nilunda dan adiknya, tantangan terbesar bukan hanya mempertahankan keterampilan membuat gamelan, tetapi juga memastikan kerajinan itu tetap memiliki pasar dan dapat diteruskan ke generasi berikutnya.
Di tengah perubahan zaman, keberlangsungan Mustika Laras menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga tradisi. Dukungan pasar, promosi, dan keterlibatan generasi muda turut menentukan apakah warisan tersebut dapat terus hidup.


▶
▶
▶
▶
▶

Narative.id Jawa Timur · Lingkungan & Bencana
Narative.id Jawa Timur · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Ekonomi & Usaha
Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR