Narative.id Jawa Timur · Network of Local News
ADVERTISEMENTtes4
Wisata, Kuliner & Budaya

Menelusuri Jejak Kelahiran dr Soetomo di Nganjuk, dari Masa Kecil hingga Pelopor Kebangkitan Nasional

Jejak kelahiran dr Soetomo di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Nganjuk, mengungkap perjalanan masa kecil hingga kiprahnya sebagai dokter dan pendiri Boedi Oetomo. Monumen dan museum setempat menjadi sarana mengenalkan sejarah perjuangan serta kebangkitan nasional kepada generasi muda.
Monumen dr Soetomo berdiri di Dusun Sono, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Kawasan ini menjadi penanda jejak kelahiran tokoh pendiri Boedi Oetomo yang berperan penting dalam kebangkitan nasional Indonesia.
Monumen dr Soetomo berdiri di Dusun Sono, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Kawasan ini menjadi penanda jejak kelahiran tokoh pendiri Boedi Oetomo yang berperan penting dalam kebangkitan nasional Indonesia. · Foto: (Dok. Istimewa)
NARATIVE.ID Nganjuk, – Jauh sebelum namanya dikenal sebagai salah satu tokoh penting kebangkitan nasional, dr Soetomo menghabiskan masa kecilnya di sebuah desa di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Jejak kehidupan pendiri Boedi Oetomo itu masih dapat ditelusuri di Dusun Sono, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, melalui monumen dan museum yang menyimpan kisah perjalanan hidupnya.

Sebuah patung perunggu setinggi sekitar tiga meter berdiri di kawasan tersebut. Patung yang menggambarkan sosok pria duduk menghadap buku terbuka itu menjadi penanda sejarah kelahiran Soetomo sekaligus pengingat bahwa perjalanan seorang tokoh bangsa bermula dari lingkungan tempat ia dibesarkan.

Juru Pelihara Monumen dan Museum dr Soetomo Nganjuk, Arik Setiawan, menjelaskan Soetomo lahir dengan nama Soebroto pada 30 Juli 1888. Ketika berusia sekitar delapan tahun, ia dibawa kakeknya, R Ng Singawijaya, ke Surabaya untuk melanjutkan perjalanan hidupnya.

“Dulu nama lahir beliau (dr Soetomo) adalah Soebroto. Lahir di sini, kemudian umur delapan tahun dibawa kakeknya ke Surabaya,” ungkap Arik saat ditemui pada Jumat (23/10/2026).

Kembali ke Ngepeh menjelang kelahiran
Kisah kelahiran Soetomo tidak hanya menjadi bagian dari catatan sejarah nasional, tetapi juga melekat dalam ingatan masyarakat Desa Ngepeh.

Berdasarkan penuturan narasumber dalam wawancara dengan Narative.id, pada Sabtu (24/10/2026), orang tua Soetomo disebut sempat berpindah-pindah tempat selama masa kehamilan ibunya. Sejumlah daerah yang disebut dalam penuturan tersebut antara lain Pasuruan, Magetan, dan Ngawi.

Menjelang persalinan, keluarga itu kembali ke Desa Ngepeh. Soetomo kemudian lahir di desa tersebut pada 30 Juli 1888.

“Terakhir mau melahirkan itu sudah pulang di Desa Ngepeh. Tepat tanggal 30 Juli 1888 lahirlah dr Soetomo,” tutur narasumber tersebut.

Rumah yang diyakini menjadi tempat kelahiran Soetomo dahulu berada di lingkungan rumah kakeknya. Namun, menurut keterangan narasumber, bangunan aslinya kini sudah tidak ada dan lokasinya telah berubah menjadi pendopo.

Sementara itu, area yang disebut sebagai tempat penanaman ari-ari Soetomo kini ditandai dengan keberadaan monumen. Keterangan tersebut menjadi bagian dari sejarah lokal yang diwariskan masyarakat setempat, meski tetap perlu diperkuat dengan dokumentasi sejarah.

Masa kecil yang disebut memiliki jiwa kepemimpinan
Sebelum meninggalkan kampung halaman, Soetomo disebut menjalani masa kecil di lingkungan Desa Ngepeh. Ia digambarkan sebagai anak yang cerdas, kreatif, dan memiliki kecenderungan memimpin saat bermain bersama teman-teman seusianya.

“Kalau main dengan teman-temannya itu sebayanya, dia itu seolah-olah seperti pimpinan,” ujar narasumber.

Selain tumbuh di lingkungan keluarga, Soetomo juga disebut pernah belajar mengaji di Pondok Pesantren Mojosari. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Bangil, Pasuruan, untuk tinggal bersama kerabat keluarganya, Raden Harjo Diburo.

Di Bangil, menurut penuturan narasumber, Soetomo mulai mengenal pendidikan di sekolah Belanda. Riwayat tersebut menjadi bagian penting untuk menelusuri perjalanan pendidikannya sebelum kemudian dikenal sebagai dokter dan tokoh pergerakan nasional.

Kompleks Monumen dan Museum dr Soetomo memiliki luas sekitar dua hektare. Menurut Arik, kawasan tersebut dahulu merupakan lingkungan rumah keluarga kakek Soetomo.

Monumen perunggu di kompleks itu diresmikan oleh Harmoko, yang saat itu menjabat Menteri Penerangan, pada 6 Mei 1986.

Selain monumen, museum menyimpan berbagai koleksi yang menggambarkan sisi lain kehidupan Soetomo sebagai tenaga medis. Koleksi tersebut antara lain stetoskop lawas, meja pemeriksaan pasien, nierbeken atau wadah untuk menampung cairan, serta perlengkapan operasi kuno.

Museum juga menyimpan buku-buku kedokteran berbahasa Belanda dan Inggris yang membahas sejumlah bidang, termasuk kulit dan perkembangan janin.

“Kalau ini, koleksi buku tentang kulit dan janin, tapi berbahasa Belanda dan Inggris,” ujar Arik saat menunjukkan koleksi buku di museum.

Koleksi tersebut memberikan gambaran tentang dunia kedokteran pada masa Soetomo. Perjalanan hidupnya tidak hanya berkaitan dengan perjuangan melalui organisasi, tetapi juga dengan pendidikan dan profesi medis.

Dari dunia kedokteran menuju kebangkitan nasional
Nama dr Soetomo tidak dapat dilepaskan dari berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Organisasi yang lahir dari kalangan pelajar STOVIA itu menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah kebangkitan nasional Indonesia.

Boedi Oetomo mendorong tumbuhnya kesadaran untuk memajukan masyarakat melalui pendidikan dan organisasi modern. Perkembangannya turut menjadi bagian dari proses panjang tumbuhnya gerakan kebangsaan di Hindia Belanda.

Kiprah Soetomo berlanjut pada 1924 melalui pendirian Indonesische Studieclub. Organisasi tersebut menjadi salah satu wadah kegiatan intelektual dan sosial yang berkaitan dengan perkembangan gerakan kebangsaan. Dalam perjalanan berikutnya, Soetomo turut berperan dalam pembentukan Partai Indonesia Raya atau Parindra.

Di tengah aktivitasnya dalam pergerakan, Soetomo tetap dikenal sebagai dokter yang memiliki perhatian terhadap persoalan sosial dan kesehatan masyarakat.

Soetomo meninggal dunia di Surabaya pada 30 Mei 1938 dalam usia 49 tahun. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961 melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 657 Tahun 1961.

Menjaga ingatan sejarah untuk generasi muda
Kini, Monumen dan Museum dr Soetomo Nganjuk menjadi salah satu tempat untuk mengenalkan perjalanan hidup tokoh nasional kepada masyarakat. Kawasan tersebut dikelola oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk.

Arik menyebut pengunjung museum berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga mahasiswa dari sejumlah daerah di Jawa Timur. Kunjungan juga cenderung meningkat pada masa mudik Lebaran dan libur tahun baru.

Museum dibuka untuk umum pukul 07.00–15.00 WIB, kecuali hari Minggu. Namun, museum dapat dibuka pada hari Minggu apabila terdapat kegiatan tertentu.

Keberadaan museum bukan sekadar menghadirkan benda-benda peninggalan masa lalu. Tempat ini juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat perjalanan seorang tokoh yang ikut mewarnai sejarah Indonesia.

Jejak dr Soetomo di Desa Ngepeh memperlihatkan bahwa sejarah kebangkitan nasional tidak hanya tercatat di kota-kota besar atau pusat pemerintahan. Daerah tempat seorang tokoh dilahirkan dan tumbuh juga memiliki cerita yang layak ditelusuri.

Dari sebuah desa di Nganjuk, perjalanan Soetomo berlanjut menuju dunia pendidikan, profesi kedokteran, dan pergerakan nasional. Kisah itu menjadi pengingat bahwa sejarah bangsa tersusun dari perjalanan panjang, termasuk dari tempat-tempat sederhana yang menyimpan ingatan tentang tokoh-tokohnya. 

Rekomendasi Video

Dipilih otomatis sesuai topik · geser →
Prayitno
Prayitno
Reporter / Redaksi Narative.id Jawa Timur

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berita Terkait

BERITA TERBARU DARI JARINGAN NARATIVE.ID

Sucy Sanggar PSB ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
KristiantoADVERTISEMENT