NARATIVE.ID Ponorogo, – Meluasnya dampak musim kemarau di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mulai meningkatkan tekanan terhadap pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat jumlah warga terdampak terus bertambah, seiring munculnya titik krisis air baru di Dukuh Guyangan, Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung.
Penambahan wilayah tersebut membuat kebutuhan distribusi air bersih meningkat signifikan. BPBD kini harus menyalurkan sebanyak 111.000 liter air setiap pekan, naik dari sebelumnya sekitar 96.000 liter.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan Dukuh Guyangan mulai masuk dalam daftar wilayah penerima bantuan air bersih sejak 3 November 2026.
"Kalau kemarin masih total keluarga 1.600-an, sekarang sudah 1.910 jiwa," kata Masun saat dikonfirmasi, Jumat (6/11/2026).
Tambahan wilayah di Slahung itu mencakup 88 kepala keluarga (KK) atau 212 jiwa. Kondisi tersebut menunjukkan persoalan kekeringan tidak hanya berkaitan dengan terbatasnya sumber air, tetapi juga meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pasokan air untuk keperluan sehari-hari.
Menurut Masun, Dukuh Guyangan merupakan kawasan yang hampir setiap tahun mengalami kekeringan. Di wilayah tersebut terdapat dua dukuh, yakni Guyangan dan Sumber.
Sebelumnya, Dinas Pekerjaan Umum (PU) telah membangun sumur bor di Dukuh Sumber sehingga masyarakat sempat mampu memenuhi kebutuhan air secara mandiri. Bahkan, sumber air tersebut sempat dimanfaatkan untuk membantu warga Guyangan.
Namun, kemarau berkepanjangan diduga menyebabkan debit air sumur mengalami penyusutan. Kondisi itu membuat warga kembali mengajukan permohonan bantuan kepada BPBD.
"Karena kemarau kemarin cukup panjang, mungkin sumbernya mengecil, sehingga mau tidak mau akhirnya bersurat ke kami," jelasnya.
BPBD menyebut wilayah Dungus, meliputi Karangpatihan, Kecamatan Pulung, serta kawasan Tumpuk, Kecamatan Sawoo, masih menjadi daerah dengan kebutuhan distribusi air terbesar. Banyaknya kantong permukiman yang terdampak membuat pengiriman air ke kawasan tersebut membutuhkan perhatian khusus.
Masun menjelaskan, permohonan bantuan dari Guyangan diterima pada Senin (2/11). Sehari kemudian, BPBD memutuskan untuk memulai distribusi air bersih ke wilayah tersebut.
Meski distribusi terus ditingkatkan, BPBD mengakui bantuan tangki air belum mampu menyelesaikan persoalan kekeringan secara permanen. Pengiriman air masih menjadi langkah penanganan darurat selama sumber air masyarakat belum kembali mencukupi.
"Kita masih punya jadwal pengiriman sampai nanti pertengahan bulan. Kita lihat sampai pertengahan bulan," ungkap Masun.
Berdasarkan jadwal distribusi BPBD Ponorogo per 3 November 2026, bantuan air bersih telah menjangkau 16 dukuh di sembilan desa yang tersebar pada sembilan kecamatan. Total distribusi mencapai 111.000 liter setiap pekan melalui 20 rit armada tangki.
Meluasnya wilayah terdampak menjadi pengingat bahwa penanganan kekeringan tidak cukup hanya mengandalkan distribusi air menggunakan truk tangki. Ketersediaan sumber air alternatif, penguatan infrastruktur sumur bor, serta pemantauan debit sumber air menjadi bagian penting agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan darurat setiap musim kemarau.
(hni/hri)


▶
▶
▶







Narative.id Malang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Hukum & Keamanan
Narative.id Brebes · Warga & Sosial
Narative.id Brebes · Pendidikan
Narative.id Jawa Tengah · Ekonomi & Usaha
NARATIVE.ID · Kesehatan
NARATIVE.ID · Hukum & Keamanan

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR