NARATIVE.ID Banyuwangi, – Penampilannya kerap mengundang rasa penasaran. Mengenakan busana adat, merapal mantra hingga menyemburkan beras kuning di tengah pertunjukan Gandrung Sewu, Tjatur Pramukho Shakti atau yang akrab disapa Mbah Pram, mampu menghidupkan karakter seorang dukun dengan begitu meyakinkan.
Namun, di balik penampilan yang lekat dengan nuansa mistis tersebut, tersimpan kisah berbeda. Pria berusia 65 tahun itu ternyata bukan dukun ataupun praktisi supranatural. Ia merupakan seniman teater yang telah puluhan tahun menjadikan seni sebagai jalan hidup.
Nama Mbah Pram cukup dikenal dalam berbagai perhelatan seni budaya Banyuwangi. Salah satunya Gandrung Sewu, pertunjukan kolosal yang melibatkan ribuan penari. Selama kurang lebih 10 tahun, ia turut mengambil bagian dalam gelaran tersebut dengan memainkan karakter bernuansa ritual.
Kemampuan aktingnya membuat sejumlah orang terkadang salah memahami sosok aslinya. Karakter dukun yang dimainkan di atas panggung bahkan terbawa hingga kehidupan sehari-hari.
Padahal, keterlibatannya dalam adegan ritual dan dunia kejawen semata-mata berangkat dari kebutuhan seni pertunjukan. Ia tidak memiliki latar belakang sebagai dukun maupun mewarisi ilmu spiritual.
Perjalanan hidup Mbah Pram justru berakar pada kecintaannya terhadap seni peran. Ia pernah merantau ke sejumlah kota besar, mulai Jakarta, Bandung, Yogyakarta hingga Padang. Namun, dunia seni tetap menjadi pilihan yang dipertahankannya.
"Kehidupan saya ya memang seni itu tadi, udah. Enggak kerja kantoran, enggak ada saya. Ya kebetulan saya anggota DKB (Dewan Kesenian Blambangan), komisinya tetap teater yang saya pegang," ujar Mbah Pram saat di konfirmasi melalui jaringan seluleri, Minggu (1/11/2026).
Selain aktif dalam pementasan teater dan sanggar seni, Mbah Pram juga pernah terlibat dalam sejumlah produksi film layar lebar nasional, di antaranya Kupu-Kupu Kertas dan Alas Purwo.
Perannya sebagai tokoh bernuansa mistis mulai sering dipercayakan kepadanya ketika terlibat dalam berbagai pementasan seni, salah satunya di Omah Terakota. Totalitas dalam membangun karakter membuat penampilannya terlihat begitu nyata.
Anggapan masyarakat bahwa dirinya memiliki kemampuan supranatural bahkan melahirkan pengalaman unik. Beberapa orang pernah menghubunginya melalui WhatsApp untuk meminta bantuan yang sebenarnya tidak berkaitan dengan dunia spiritual.
Salah satunya, seseorang meminta bantuan membuka blokiran nomor WhatsApp milik kekasihnya.
"Sampai ada yang WA, namanya HP, waduh sampai ada yang suruh membuka blokiran. Dia pacaran katanya nomornya diblokir pacarnya, suruh membuka saya. Loh, kok dibawa ke saya, bawa ke counter! Emang saya teknisi HP apa?" tuturnya sambil tertawa.
Pengalaman lain muncul ketika dirinya melakukan adegan menyemburkan beras kuning dalam pertunjukan. Sejumlah warga hingga pedagang di sekitar lokasi terkadang meminta cipratan beras tersebut karena berharap mendapatkan keberuntungan atau dagangannya semakin laris.
Mbah Pram memilih menanggapi permintaan itu dengan santai. Ia tidak mengklaim memiliki kesaktian, tetapi justru memberikan nasihat sederhana tentang pentingnya usaha.
Ketika ada yang meminta doa agar anaknya pintar, ia mengingatkan agar anak tersebut rajin belajar.
"Pokoknya sinau (belajar) yang rajin, pasti dadi orang pintar. Wong sinau ya mesti pintar, Mbak," kelakarnya.
Di balik cerita tersebut, Mbah Pram ternyata memiliki perhatian besar terhadap perkembangan seni dan budaya Banyuwangi. Keterlibatannya dalam Gandrung Sewu membuatnya memahami bagaimana perjuangan para penari muda dalam mempersiapkan pertunjukan kolosal.
Ia mengapresiasi ribuan penari yang harus menjalani latihan selama berbulan-bulan, bahkan dalam kondisi cuaca panas maupun hujan.
Meski demikian, Mbah Pram juga memiliki pandangan kritis terhadap perubahan format pertunjukan Gandrung Sewu yang sempat digelar pada malam hari.
Menurutnya, pertunjukan malam memang memberikan kemegahan visual, terlebih dengan adanya atraksi teknologi seperti drone. Namun, ia mengingatkan agar kemasan pertunjukan tidak sampai menggeser perhatian dari kesenian Gandrung itu sendiri.
"Kalau Gandrung itu sebenarnya aslinya memang malam kan. Tapi, karena ini pertunjukan yang kolosal gitu ya, akhirnya yang menonjol ya atraksi drone-nya itu, tari Gandrung-nya jadi tidak kelihatan," jelasnya.
Bagi Mbah Pram, sebuah pertunjukan budaya tidak cukup hanya mengandalkan kemegahan panggung dan teknologi. Nilai tradisi serta identitas kesenian harus tetap menjadi bagian utama yang diperlihatkan kepada masyarakat.
Pengalamannya selama sekitar satu dekade di Gandrung Sewu menjadi bukti bahwa seni peran memiliki kekuatan besar dalam membangun karakter. Bahkan, sebuah tokoh fiktif dapat begitu melekat hingga membuat penonton sulit membedakan antara peran dan kehidupan pribadi pemerannya.
Di balik sosok dukun yang selama ini diperankannya, Mbah Pram tetaplah seorang seniman teater yang memilih berpijak pada logika. Baginya, kesenian bukan tentang menunjukkan kesaktian, melainkan bagaimana sebuah peran mampu memberikan kehidupan pada cerita dan budaya yang ditampilkan..


▶
▶
▶
▶






Narative.id Malang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana
Narative.id Malang · Warga & Sosial
Narative.id Jawa Barat · Lingkungan & Bencana
Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Pemalang · Kebijakan & Politik
Narative.id Lumajang · Lingkungan & Bencana

KOMENTAR (0)
MASUKDAFTAR